Media Berita Profesional, Terpercaya & Akurat

Aminullah, Dosen yang Pulang Membangun Kampung Halaman

“Sudah cukup 16 tahun membangun kampung orang, waktunya pulang untuk membangun kampung sendiri.” Kalimat itu yang menjadi pegangan Aminullah, S.Pd., M.Pd, dosen di dua kampus swasta di Mataram, saat memutuskan maju sebagai bakal calon Kepala Desa Bagik Manis, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pada Pemilihan Kepala Desa 2027.

Bagi pria yang akrab disapa Guru Amin ini, mengabdi kepada masyarakat tidak harus selalu lewat ruang kuliah. Pemerintahan desa, menurut dia, juga ladang pengabdian yang sama pentingnya. Pengalamannya belasan tahun sebagai akademisi menjadi modal yang ia yakini dapat dibawa untuk membangun tata kelola desa yang lebih transparan dan modern.

Lahir pada Januari 1991 di Dusun Dasan Bagik Dalam, Desa Bagik Manis, Aminullah menempuh pendidikan dasar dan menengah di kampung halamannya sendiri, mulai dari SDN 1 Bagik Manis, SMPN 1 Sambelia, hingga SMAN 1 Sambelia. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di IKIP Mataram untuk jenjang sarjana, dan meraih gelar magister dari Universitas Negeri Yogyakarta. Capaian itu menjadikannya orang pertama dari Desa Bagik Manis yang menyandang gelar magister, dari hanya segelintir lulusan S-2 yang ada di Kecamatan Sambelia.

Saat ini Aminullah mengajar sebagai dosen di Universitas Mahasaraswati Mataram dan Universitas 45 Mataram. Ia menyebut status sebagai dosen swasta tidak menghalanginya untuk maju sebagai pejabat publik, termasuk kepala desa. Menurut dia, kampus tempatnya mengajar justru mendukung dosennya berkiprah di ranah publik karena dianggap sejalan dengan kewajiban pengabdian kepada masyarakat dan dapat mengangkat nama almamater.

Meski berdomisili di Lombok Barat untuk menjalankan tugasnya sebagai dosen, Aminullah mengaku tetap menyempatkan diri pulang ke Dusun Dasan Bagik Dalam dan Dasan Bagik Lauk, terutama saat ada hajatan keluarga atau warga yang sedang berduka. Beberapa kali ia bahkan dipercaya mewakili keluarga untuk bertakziah di pemakaman, sebuah peran yang menurutnya menunjukkan kedekatannya dengan masyarakat di kampung halaman.

Jejak organisasinya terbilang panjang. Semasa menjadi mahasiswa, Aminullah pernah menjabat Wakil Ketua BEM Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), menjadi ketua partai di tingkat kampus, dan terpilih sebagai peserta terbaik dalam Pelatihan Kepemimpinan dan Manajemen Tingkat Menengah Seluruh Indonesia yang diselenggarakan di Bali. Setelah menjadi dosen, ia pernah dipercaya sebagai Kepala Program Studi, Wakil Dekan, hingga Kepala Biro Mutu Eksternal.

Di lingkungan desanya, Aminullah dikenal sebagai salah satu pendiri organisasi kepemudaan bernama Persatuan Pemuda Perintis Perubahan (P4) Desa Bagik Manis. Ia juga rutin terlibat dalam berbagai kegiatan peringatan hari besar Islam (PHBI) seperti maulid dan takbiran, serta kegiatan kepemudaan lain di desanya.

Keputusannya maju sebagai bakal calon kepala desa menuai beragam tanggapan dari warga. Sebagian masyarakat menilai latar belakangnya sebagai dosen menjadi nilai tambah, dengan harapan ia dapat membawa gagasan-gagasan baru dalam pembangunan desa.

Aminullah menegaskan, komitmennya jika terpilih kelak adalah mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengembangan potensi pemuda, serta pemanfaatan teknologi dalam tata kelola pemerintahan desa.

“Saya ingin ilmu dan pengalaman yang saya miliki dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Desa memiliki potensi besar untuk berkembang apabila dikelola secara profesional, transparan, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

Bagi Aminullah, mencalonkan diri sebagai kepala desa bukan sekadar mengejar jabatan. Ia memaknainya sebagai bentuk pengabdian lanjutan, kali ini bukan lagi untuk kampus dan mahasiswa di tempatnya mengajar, melainkan untuk kampung tempat ia dilahirkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *