Media Berita Profesional, Terpercaya & Akurat
Opini  

PERLINDUNGAN TERHADAP SAKSI PELAKU BEKERJASAMA (JUSTICE COLLABORATOR) DALAM PENEGAKAN HUKUM PIDANA INDONESIA

ABSTRAK
Kejahatan luar biasa membutuhkan instrumen khusus seperti Justice Collaborator (JC) untuk membongkar aktor intelektual dan kerumitan pembuktian. Penelitian hukum normatif ini bertujuan mengkaji eksistensi, kedudukan, dan implementasi perlindungan hukum JC dalam sistem peradilan pidana Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan pengaturan JC telah berevolusi dari ratifikasi UNCAC 2003 dan pedoman SEMA No. 4 Tahun 2011, hingga terkodifikasi secara positif dalam Pasal 175 UU No. 1 Tahun 2023 (KUHP Baru). Syarat penetapan JC meliputi, bukan pelaku utama, memberikan kerja sama substansial, dan pemenuhan pemulihan aset (asset recovery). Walaupun pelindungan fisik dan insentif keringanan pidana telah diterapkan, implementasinya masih menghadapi tantangan disparitas vonis dan disharmoni norma, khususnya terkait penghapusan penuntutan. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pembentukan undang-undang khusus (lex specialis) tentang JC guna merumuskan kriteria, prosedur, dan pelindungan yang komprehensif demi terwujudnya kepastian hukum dan keadilan substantif.
Kata Kunci: Justice Collaborator; Perlindungan Hukum; Sistem Peradilan Pidana; Kejahatan Luar Biasa; Pemulihan Aset.

A. Latar Belakang
Dinamika kehidupan sosial yang semakin kompleks seiring dengan perkembangan zaman telah memicu evolusi dalam pola kejahatan. Secara mendasar, hukum pidana kini membedakan tindak pidana menjadi dua kategori besar: kejahatan biasa (ordinary crimes) dan kejahatan luar biasa (extraordinary crimes). Kejahatan biasa umumnya dilakukan dengan modus operandi yang konvensional dan telah terakomodasi dalam kodifikasi hukum yang ada. Sebaliknya, kejahatan luar biasa seperti korupsi, terorisme, dan kejahatan transnasional terorganisasi menunjukkan karakteristik yang jauh lebih rumit, sistematis, dan sering kali memanfaatkan celah dalam perkembangan teknologi serta media modern.
Praktik kejahatan luar biasa dewasa ini sering kali melibatkan penggunaan alat bukti digital yang canggih, mulai dari penyadapan telepon, teleconference, hingga rekaman CCTV, sebagai respons atas kerumitan pembuktian yang dihadapi oleh aparat penegak hukum. Karena kejahatan ini sering dilakukan secara terorganisasi dan melibatkan jejaring yang kuat, cara-cara konvensional dalam proses penyidikan dan penuntutan sering kali terbukti tidak efektif dan menemui banyak hambatan struktural. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah luar biasa (extraordinary measures) untuk menembus tembok kesunyian atau code of silence yang biasanya menyelimuti kelompok kejahatan terorganisir tersebut. Tanpa adanya terobosan hukum yang memungkinkan pembongkaran fakta dari dalam, upaya penegakan hukum terhadap aktor intelektual atau pelaku utama akan selalu mengalami jalan buntu.
Dalam konteks menghadapi hambatan pembuktian, penggunaan Justice Collaborator atau Saksi Pelaku Bekerjasama muncul sebagai instrumen vital. Berbeda dengan saksi biasa, Justice Collaborator adalah pelaku tindak pidana yang bersedia bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk membuka tabir fakta yang selama ini ditutup-tutupi. Urgensi kehadiran Justice Collaborator terletak pada kemampuan mereka memberikan informasi signifikan yang tidak mungkin diperoleh melalui metode penyidikan konvensional. Melalui kesaksian mereka, aparat dapat mengidentifikasi aktor utama, membongkar jaringan yang lebih luas, dan mengembalikan aset negara yang telah dikorupsi.
Namun, status Justice Collaborator tidaklah bebas dari risiko. Seringkali, individu yang bersedia bekerja sama menghadapi tekanan psikologis yang berat, ancaman fisik, atau ketakutan terhadap atasan maupun pihak-pihak yang memiliki posisi kekuasaan lebih tinggi. Fenomena ini memaksa penyidik untuk menempuh strategi berupa plea bargaining, di mana dilakukan tawar-menawar dalam kerangka hukum untuk memberikan keringanan pidana sebagai imbalan atas kejujuran dan kontribusi substansial pelaku dalam membongkar kasus. Mengingat posisi mereka yang rentan, perlindungan hukum bagi Justice Collaborator menjadi aspek yang sangat krusial agar mereka tidak menjadi korban kedua dalam proses peradilan.
Bertolak dari uraian latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, penelitian ini secara komprehensif akan mengkaji dan menganalisis persoalan-persoalan yuridis mengenai eksistensi serta kedudukan hukum saksi pelaku bekerjasama (Justice Collaborator) dalam sistem peradilan pidana Indonesia saat ini, sekaligus menelaah bagaimana bentuk implementasi perlindungan hukum yang diberikan oleh negara bagi saksi pelaku tersebut guna menjamin kepastian dan keadilan dalam kerangka penegakan hukum pidana di Indonesia.
B. Metode Penelitian
Untuk menjawab permasalahan yuridis tersebut, penelitian ini mengadopsi metode penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif dengan menitikberatkan pada kajian pustaka terhadap norma-norma hukum positif, yang dianalisis secara komprehensif melalui perpaduan pendekatan perundang-undangan (statute approach) untuk menelaah regulasi yang berkaitan dengan Justice Collaborator, pendekatan konseptual (conceptual approach) guna mendalami doktrin-doktrin hukum yang melatarbelakangi konsep saksi mahkota dan Justice Collaborator, pendekatan historis (historical approach) untuk memahami dinamika kemunculan pengaturannya dalam sistem peradilan pidana, serta pendekatan perbandingan (comparative approach) guna menganalisis penerapan aturan pada berbagai instrumen hukum yang relevan.
Seluruh bahan hukum baik primer, sekunder, maupun tersier dikumpulkan, dikaji, dan diolah secara sistematis untuk dianalisis dengan metode penafsiran futuristik guna memberikan kontribusi pemikiran yang relevan bagi pengembangan hukum pidana di Indonesia.
II. EVOLUSI NORMATIF LANDASAN HUKUM JUSTICE COLLABORATOR
Eksistensi Justice Collaborator di Indonesia tidak lahir dari ruang hampa, melainkan merupakan derivasi dari komitmen internasional dalam pemberantasan kejahatan luar biasa, khususnya korupsi. Fondasi utama konsep ini adalah United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) 2003, yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006. Secara filosofis, Pasal 37 UNCAC mengamanatkan bahwa dalam menghadapi kejahatan yang terorganisir dan rumit, negara memerlukan strategi pembuktian yang bersifat kooperatif dengan pelaku. Ayat (2) dan (3) pada pasal tersebut memberikan legitimasi bagi negara peserta untuk menawarkan keringanan hukuman atau bahkan kekebalan penuntutan kepada pelaku yang bersedia memberikan kerja sama substansial dalam proses penyelidikan dan penuntutan. Ketentuan internasional ini menjadi pendorong utama bagi perubahan paradigma hukum pidana di Indonesia, yang semula kaku dalam prinsip pembuktian konvensional, menjadi lebih pragmatis dalam upaya membongkar hidden crime dengan melibatkan pihak yang mengetahui seluk-beluk kejahatan dari dalam.
Transformasi pengaturan Justice Collaborator di Indonesia menunjukkan perjalanan panjang dari kebijakan administratif menuju kodifikasi hukum positif. Awalnya, kepastian hukum mengenai peran Justice Collaborator di Indonesia lebih banyak bergantung pada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2011. SEMA ini menjadi pedoman praktis bagi hakim dalam menentukan terdakwa yang layak mendapatkan perlakuan khusus, seperti pidana percobaan bersyarat khusus atau pidana penjara paling ringan, dengan kriteria ketat terkait signifikansi informasi yang diberikan. Di samping itu, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban turut memperkuat kerangka ini dengan mendefinisikan saksi pelaku sebagai tersangka, terdakwa, atau terpidana yang bekerja sama dengan penegak hukum.
Puncak dari evolusi ini adalah lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Baru). Jika sebelumnya pengaturan Justice Collaborator bersifat sektoral dan administratif, Pasal 175 KUHP Baru kini telah mengkodifikasi secara eksplisit perihal pengurangan pidana bagi saksi pelaku yang bekerja sama dalam sebuah undang-undang yang bersifat materiil. Transisi ini memberikan kepastian hukum yang jauh lebih kuat bagi aparat penegak hukum dan hakim dalam menerapkan konsep Justice Collaborator, sekaligus mengintegrasikan praktik ini secara formal ke dalam sistem hukum nasional yang bersifat mengikat. Dengan demikian, status Justice Collaborator tidak lagi sekadar bergantung pada diskresi melalui surat edaran, melainkan telah menjadi instrumen legal yang terstruktur dalam hukum positif Indonesia.
III. KRITERIA OBJEKTIF DAN PERSYARATAN PENETAPAN STATUS JUSTICE COLLABORATOR
Status penetapan seorang Justice Collaborator (JC) mensyaratkan batasan kedudukan hukum yang sangat spesifik dan ketat. Berdasarkan sistem hukum di Indonesia, khususnya merujuk pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang nomor 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban, seorang Justice Collaborator harus berstatus sebagai tersangka, terdakwa, atau terpidana yang terlibat dalam suatu tindak pidana. Syarat fundamental lainnya adalah kewajiban terdakwa untuk mengakui kejahatan yang telah dilakukannya secara jujur, serta kesediaannya untuk memberikan keterangan sebagai saksi dalam proses peradilan.
Lebih lanjut, aparat penegak hukum menetapkan batasan mutlak bahwa seorang Justice Collaborator tidak boleh berkedudukan sebagai pelaku utama dalam kejahatan tersebut. Hal ini sejalan dengan pedoman normatif yang diatur dalam Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011, yang memastikan bahwa insentif perlindungan dan keringanan hukuman hanya diberikan kepada pihak yang tingkat kesalahannya lebih rendah dibandingkan aktor intelektualnya. Meskipun mendapatkan perlakuan khusus, seorang Justice Collaborator pada prinsipnya tetap berstatus sebagai pelaku yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan tidak dapat dibebaskan sepenuhnya dari tuntutan hukum, melainkan hanya mendapatkan pengurangan pidana atas kesaksian yang ia berikan.
Keberadaan saksi pelaku yang bekerja sama tidak semata-mata diukur dari pengakuan bersalahnya, melainkan dari signifikansi kerja sama substansial yang diberikan selama proses penyelidikan hingga penuntutan. Parameter utama yang digunakan oleh aparat penegak hukum untuk menilai signifikansi ini adalah kualitas keterangan dan validitas bukti-bukti yang diserahkan oleh terdakwa. Informasi yang diberikan harus sangat terukur dan signifikan sehingga memungkinkan penyidik atau penuntut umum untuk mengungkap konstruksi tindak pidana tersebut secara efektif.
Selain itu, kontribusi pembuktian dari seorang Justice Collaborator diwajibkan mampu membongkar tabir kejahatan dalam kasus yang sama, khususnya dalam mengungkap pelaku-pelaku lain yang mempunyai peran lebih besar. Keterangan krusial yang bernilai tinggi inilah yang kemudian menjadi landasan objektif sekaligus pertimbangan utama bagi majelis hakim di persidangan untuk memberikan insentif hukum, baik berupa penjatuhan pidana percobaan bersyarat khusus maupun penjatuhan pidana penjara yang paling ringan di antara terdakwa lainnya.
Salah satu dimensi krusial yang menjadi tolok ukur iktikad baik seorang Justice Collaborator dalam sistem peradilan pidana Indonesia adalah kewajiban pemulihan aset negara atau asset recovery. Peraturan Bersama Aparat Penegak Hukum dan LPSK, serta pedoman SEMA Nomor 4 Tahun 2011, secara tegas menggarisbawahi bahwa seorang Justice Collaborator harus bersedia membantu mengembalikan aset-aset atau hasil dari suatu tindak pidana kepada negara.
Kewajiban pengembalian kerugian negara ini merupakan syarat mutlak yang membuktikan bahwa kerja sama yang ditawarkan oleh terdakwa bukan sekadar taktik pragmatis untuk menghindari hukuman berat, melainkan wujud nyata dari tanggung jawab atas kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Implementasi dari syarat mutlak ini dapat dilihat dalam praktik peradilan kasus Teddy Renyut, di mana permohonannya sebagai Justice Collaborator diterima secara sah oleh majelis hakim karena ia tidak hanya membongkar peran pihak yang lebih besar, tetapi juga mengembalikan aset-aset penting negara yang didapatkan dari tindak pidana yang ia lakukan.
IV. IMPLEMENTASI DAN DINAMIKA PENERAPAN DALAM PERADILAN
Implementasi konsep Justice Collaborator (JC) dalam sistem peradilan pidana Indonesia dapat ditelaah secara empiris melalui penerapan pada kasus-kasus tindak pidana korupsi yang menjadi landmark case. Analisis terhadap kasus Agus Tjondro Prayitno menunjukkan bahwa pengakuannya pada tanggal 4 Juli 2008 terkait penerimaan suap berupa cek perjalanan menjadi kunci pembuka bagi pengungkapan kejahatan yang lebih masif. Agus diterima sebagai Justice Collaborator karena ia secara sukarela mengakui perbuatannya, bukan merupakan pelaku utama, serta secara berani mengungkap pelaku utama yaitu Miranda Goeltom beserta pelaku-pelaku lainnya.
Selain itu, kelayakannya sebagai Justice Collaborator diperkuat oleh kesediaannya mengembalikan aset hasil tindak pidana dan memberikan fakta serta bukti signifikan kepada aparat penegak hukum terkait tindak pidana serius yang terorganisir tersebut.
Di sisi lain, kasus Teddy Renyut menghadirkan dimensi yang sedikit berbeda, di mana ia secara proaktif mengajukan permohonan sebagai pembuka kasus korupsi kepada Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Dalam kasus penyuapan proyek tanggul laut di Biak ini, permohonan Teddy diterima karena ia memberikan bukti kuat mengenai korupsi oleh oknum di Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, mengungkap pelaku dengan peran lebih besar, serta mengembalikan aset-aset penting negara. Perbandingan kedua yurisprudensi ini memotret keberhasilan penerapan Justice Collaborator sebagai instrumen vital untuk membongkar kejahatan luar biasa, sekaligus menegaskan bahwa status ini sangat bergantung pada tingkat kontribusi terdakwa dalam mengungkap kasus yang sama.
Dinamika penerapan Justice Collaborator di persidangan seringkali diwarnai oleh tantangan terkait diskresi hakim yang dapat berujung pada disparitas penjatuhan pidana. Berdasarkan pedoman normatif pada Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011, atas bantuan yang diberikan oleh seorang Justice Collaborator, hakim memiliki kewenangan untuk menjatuhkan pidana percobaan bersyarat khusus atau menjatuhkan pidana penjara yang paling ringan di antara terdakwa lainnya yang terbukti bersalah.
Namun, pedoman ini juga memberikan batasan yang sifatnya kualitatif, yakni hakim tetap wajib mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat dalam pemberian keringanan pidana tersebut. Kondisi ini memberikan ruang diskresi yang sangat luas bagi majelis hakim untuk menafsirkan kadar keringanan yang pantas, sehingga seorang Justice Collaborator tetap tidak dapat dibebaskan dari tuntutan, melainkan hanya dikurangi pidananya.
Sebagai contoh konkret, meskipun berstatus sebagai Justice Collaborator yang telah membantu penegak hukum, Teddy Renyut tetap dijatuhi vonis yang cukup signifikan, yakni 3,5 tahun penjara dan denda sebesar Rp150.000.000,00. Realitas ini mencerminkan adanya disharmoni aturan seperti kemungkinan penghapusan penuntutan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 (UNCAC) yang berbenturan dengan ketentuan dalam undang-undang lain yang tidak memberikan penghapusan tersebut sehingga menuntut hakim untuk bertindak ekstra cermat dalam menyeimbangkan antara penghargaan bagi saksi pelaku dengan keadilan penegakan hukum.
Kesediaan seorang terdakwa untuk menjadi Justice Collaborator membawa risiko ancaman yang sangat besar bagi dirinya dan keluarganya, sehingga memerlukan jaminan perlindungan hukum dan prosedural yang komprehensif. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban mengatur secara spesifik mengenai hak-hak tersebut, yang terbagi dalam dua bentuk pokok, yaitu perlindungan fisik yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) serta perlindungan khusus berupa penanganan khusus dan pemberian penghargaan atas kesaksiannya dalam Pasal 10 dan 10A.
Dalam praktik peradilan, perlindungan ini terwujud secara nyata, sebagaimana dialami oleh Agus Tjondro yang memperoleh perlindungan menyeluruh atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta dijamin bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksiannya. Secara prosedural, bentuk penanganan khusus diimplementasikan melalui pemisahan pemberkasan, pemberian keterangan tanpa berhadapan langsung dengan terdakwa, serta pemisahan tempat penahanan.
Hal ini terbukti dari perlakuan terhadap Agus Tjondro yang diberikan pemisahan tempat penahanan dari para terdakwa lainnya dan pada akhirnya memperoleh pengurangan masa tahanan menjadi hanya 15 bulan penjara. Bentuk perlindungan fisik dan psikis ini, yang juga diperkuat oleh Peraturan Bersama Aparat Penegak Hukum dan LPSK, menjadi fondasi esensial untuk memastikan bahwa saksi pelaku dapat memberikan keterangan tanpa tekanan, dirahasiakan identitasnya, hingga mendapatkan bantuan biaya hidup selama masa perlindungan.
V. TANTANGAN YURIDIS DAN INTEGRASI KEBIJAKAN MASA DEPAN
Eksistensi Justice Collaborator dalam tata hukum Indonesia masih dihadapkan pada tantangan fundamental berupa konflik norma antarperaturan perundang-undangan, yang mengakibatkan ketidaksinkronan dalam tatanan pengaturannya. Salah satu celah yuridis yang paling mencolok adalah perbedaan perlakuan terkait bentuk penghargaan atau insentif penuntutan yang diberikan kepada saksi pelaku. Sebagai contoh nyata, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 yang meratifikasi instrumen UNCAC membuka peluang adanya kekebalan atau penghapusan penuntutan bagi pelaku yang bekerja sama, namun pada undang-undang lain di tataran nasional, insentif hukum yang diberikan hanya sebatas keringanan pidana dan tidak mencakup penghapusan penuntutan secara mutlak.
Ketidaksinkronan ini berpotensi melahirkan disparitas penegakan hukum, terutama ketika aparat penegak hukum dan hakim harus mengintegrasikan ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban dengan pembaruan hukum pidana materil dalam KUHP Baru. Keberadaan norma yang saling berbenturan ini menuntut adanya sinkronisasi yang sistematis agar aparat peradilan memiliki pijakan tunggal yang pasti dalam menentukan batas maksimal insentif hukum bagi seorang saksi pelaku yang kooperatif.
Untuk merespons berbagai konflik norma serta ambiguitas kriteria di lapangan, arah kebijakan hukum pidana nasional di masa depan harus bertumpu pada pembentukan aturan teknis yang lebih rigid dan komprehensif. Upaya pembenahan ini menuntut dibuatnya peraturan baru yang secara khusus atau lex specialis mengatur mengenai Justice Collaborator. Kehadiran regulasi khusus ini sangat mendesak, terutama untuk merumuskan kriteria objektif seorang Justice Collaborator secara tegas, sehingga dapat menjadi acuan pasti bagi aparat penegak hukum dalam menentukan terdakwa yang pantas menyandang status tersebut tanpa terjebak dalam penafsiran yang subjektif.
Lebih lanjut, perlindungan terhadap Justice Collaborator juga haruslah tertuang dalam aturan tersendiri yang memuat prosedur permohonan dan mekanisme perlindungan secara lebih jelas dan terperinci. Terkait masa depan pemberian penghargaan, sistem peradilan dapat berpedoman pada semangat pembaruan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) KUHAP, yang secara konseptual memberikan ruang bagi penghapusan penuntutan atas kesaksian yang diberikan, namun pelaksanaannya tetap menjadi kewenangan absolut yang berdasar pada pertimbangan majelis hakim. Melalui integrasi kebijakan yang lebih rigid ini, sistem hukum pidana di Indonesia diharapkan mampu mewujudkan keadilan substantif, di mana keberhasilan negara dalam membongkar jaringan tindak pidana luar biasa berjalan beriringan dengan jaminan kepastian hukum dan pelindungan hak-hak kemanusiaan bagi saksi pelaku.

VI. PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan keseluruhan analisis terhadap eksistensi dan perlindungan hukum bagi Justice Collaborator di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa keberadaan saksi pelaku yang bekerja sama telah diakui dan termuat secara sah dalam berbagai instrumen peraturan perundang-undangan nasional. Pengakuan yuridis ini secara praktis melahirkan rumusan kriteria yang ketat, di mana seorang Justice Collaborator harus berstatus sebagai terdakwa atau tersangka, mengakui segala kesalahannya, serta memiliki iktikad baik untuk bekerja sama dengan aparat penegak hukum guna membongkar jaringan kejahatan dan menangkap pelaku utama dari tindak pidana tersebut.

Sebagai bentuk kompensasi dan pelindungan atas risiko yang ditanggungnya, negara memberikan jaminan perlindungan khusus yang mencakup penanganan terpisah melalui pemisahan tempat penahanan, pemisahan pemberkasan perkara, serta pemenuhan hak untuk memberikan kesaksian tanpa harus berhadapan langsung dengan terdakwa lain di persidangan. Di samping jaminan keamanan, saksi pelaku juga berhak menerima penghargaan atas kesaksiannya, yang dapat diwujudkan dalam bentuk keringanan penjatuhan pidana, pembebasan bersyarat, remisi tambahan, hingga pemenuhan hak-hak narapidana lainnya demi menjamin penghargaan atas harkat dan martabat manusia, rasa aman, keadilan yang tidak diskriminatif, serta kepastian hukum.
B. Saran
Dalam upaya meningkatkan efektivitas aturan dan sistem penegakan hukum yang berorientasi pada pelindungan saksi pelaku, masih ditemukan sejumlah persoalan, terutama terkait adanya konflik norma antarperaturan perundang-undangan yang memicu ketidaksinkronan pengaturannya. Salah satu contoh nyata dari ketidaksinkronan ini adalah ketentuan mengenai pemberian penghapusan penuntutan pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 yang tidak sejalan dengan undang-undang lainnya yang tidak memberikan ruang untuk penghapusan tersebut.

Oleh karena itu, sangat disarankan agar dibentuk suatu peraturan perundang-undangan baru yang secara khusus dan komprehensif mengatur mengenai Justice Collaborator, khususnya dalam merumuskan kriteria yang pasti, sehingga regulasi tersebut dapat menjadi acuan yang jelas bagi aparat penegak hukum dalam menetapkan seorang terdakwa menjadi saksi pelaku yang bekerja sama. Selain itu, prosedur untuk mendapatkan perlindungan harus dikodifikasi dalam aturan tersendiri yang bersifat lebih khusus guna merinci setiap tahapan secara lebih terperinci. Terkait dengan pemberian insentif penghargaan, kebijakan hukum ke depan dapat merujuk pada rumusan dalam RUU KUHAP yang membuka peluang bagi penghapusan penuntutan atas kesaksian yang diberikan, dengan tetap mempertahankan asas bahwa pemberian insentif tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan absolut yang didasarkan pada pertimbangan majelis hakim.



DAFTAR PUSTAKA
A. BUKU
Chtzis, Ilias., dan Tim UNDOC. (2011). Praktek Terbaik Perlindungan Saksi dalam Proses Pidana yang Melibatkan Kejahatan Terorganisir. Jakarta: LPSK-UNDOC.
Daliyo, J.B. (2011). Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta: PT Prenhalindo.
Darmodiharjo, Darji., & Shidarta. (2006). Pokok-Pokok Filsafat Hukum: Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia (Cetakan VI). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Faisal. (2012). Menerobos Positivisme Hukum. Bekasi: PT Gramata Publishing.
Hadjon, Philipus M. (1987). Perlindungan Hukum bagi Rakyat Indonesia. Jakarta: PT Bina Ilmu.
Harahap, M. Yahya. (1993). Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP. Jakarta: PT Pustaka Kartini.
Kansil, C.S.T. (2004). Pokok-Pokok Hukum Pidana. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Mulyadi, Lilik. (2012). Hukum Acara Pidana Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Soedjono, D. (1976). Penanggulangan Kejahatan (Crime Prevention). Bandung: PT Alumni.
Surya, Jaya. (2010). Perlindungan Justice Collaborator dalam Sistem Pengadilan. Jakarta: Elsam.
B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi).
Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
Republik Indonesia. (2011). Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) Tahun 2011.
Mahkamah Agung RI. (2011). Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan bagi Pelapor Tindak Pidana (Whistleblower) dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Justice Collaborators) di Dalam Perkara Tindak Pidana Tertentu.
Kementerian Hukum dan HAM, Kejaksaan Agung, Polri, dan LPSK. (2011). Peraturan Bersama Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian, dan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban tentang Perlindungan bagi Pelapor, Saksi Pelapor, dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama.
C. INTERNET / WEBSITE
Antaranews.com. (2012). “Miranda, dari Guru Besar ke Tersangka Suap”. Diakses dari http://www.antaranews.com/berita/294577/miranda-dari-guru-besar-ke-tersangka-suap, pada tanggal 26 April 2016.
Beritasatu.com. (2011). “15 Bulan Penjara untuk Agus Condro”. Diakses dari http://www.beritasatu.com/ekonomi/7629-15-bulan-penjara-untuk-aguscondro.html, pada tanggal 27 April 2016, pukul 11.31 WIT.
Detik.com. (2013). “Belajar tentang Justice Collaborator dari Belanda”. Diakses dari http://news.detik.com/read/2013/03/09/131018/2190269/10/belajar-tentang-justice-collaboratordari-belanda, pada tanggal 07 Februari 2016, pukul 17.00 WIT.
Kompas.com. (2014). “Pengusaha Teddy Renyut Minta KPK Usut Praktik Ijon Proyek di Kementerian PDT”. Diakses dari http://nasional.kompas.com/read/2014/10/13/1705461/Pengusaha.Teddy.Renyut.Minta.KPK.Usut.Praktik.Ijon.Proyek.di.Kementerian.PDT, pada tanggal 27 April 2016, pukul 04.00 Wita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *